Total Tayangan Halaman

Sabtu, 17 Agustus 2013

KEJAHATAN dan PENJAHAT

A.      Pendahuluan
Kejahatan adalah suatu nama atau cap yang diberikan orang untuk menilai perbuatan- perbuatan tertentu, sebagai perbuatan jahat. Dengan demikian maka si pelaku disebut sebagai penjahat. Diatur dalam Statuta Roma dan diadopsi dalam Undang-Undang no. 26 tahun 2000 tentang pengadilan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia. Menurut UU tersebut dan juga sebagaimana diatur dalam pasal 7 Statuta Roma, definisi kejahatan terhadap kemanusiaan ialah Perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terdapat penduduk sipil.
Selain itu ada juga beberapa definisi tentang kejahatan menurut para ahli, diantaranya :
1. Menurut B. Simandjuntak, kejahatan merupakan suatu tindakan anti sosial yang merugikan, tidak pantas, tidak dapat dibiarkan, yang dapat menimbulkan kegoncangan dalam masyarakat.
2. Menurut Van Bammelen, kejahatan adalah tiap kelakuan yang bersifat tidak susila dan merugikan, dan menimbulkan begitu banyak ketidaktenangan dalam suatu masyarakat tertentu, sehingga masyarakat itu berhak untuk mencelanya dan menyatakan penolakannya atas kelakuan itu dalam bentuk nestapa dengan sengaja diberikan karena kelakuan tersebut.
3. Menurut R. Soesilo, ia membedakan pengertian kejahatan secara yuridis dan pengertian kejahatan secara sosiologis. Ditinjau dari segi yuridis, pengertian kejahatan adalah suatu perbuatan tingkah laku yang bertentangan dengan undang- undang. Ditinjau dari segi sosiologis, maka yang dimaksud dengan kejahatan adalah perbuatan atau tingkah laku yang selain merugikan si penderita, juga sangat merugikan masyarakat yaitu berupa hilangnya keseimbangan, ketentraman dan ketertiban.
4. Menurut J.M. Bemmelem, ia memandang kejahatan sebagai suatu tindakan anti sosial yang menimbulkan kerugian, ketidakpatutan dalam masyarakat, sehingga dalam masyarakat terdapat kegelisahan, dan untuk menentramkan masyarakat, negara harus menjatuhkan hukuman kepada penjahat.
5. Menurut M.A. Elliot, ia mengatakan bahwa kejahatan adalah suatu problem dalam masyarakat modem atau tingkah laku yang gagal dan melanggar hukum dapat dijatuhi hukurnan penjara, hukuman mati dan hukuman denda dan seterusnya.
6. Menurut W.A. Bonger mengatakan bahwa kejahatan adalah perbuatan yang sangat anti sosial yang memperoleh tantangan dengan sadar dari negara berupa pemberian penderitaan.
7. Menurut Paul Moedikdo Moeliono, kejahatan adalah perbuatan pelanggaran norma hukum yang ditafsirkan atau patut ditafsirkan masyarakat sebagai perbuatan yang merugikan, menjengkelkan sehingga tidak boleh dibiarkan (negara bertindak).
Perkembangan dan peningkatan kejahatan disebabkan pola kehidupan sosial masyarakat yang terus mengalami perubahan-perubahan dan berbeda antara tempat yang satu dengan yang lainnya serta berbeda pula dari suatu waktu atau jaman tertentu dengan waktu atau jaman yang lain sehingga studi terhadap masalah kejahatan dan penyimpangan juga mengalami perkembangan dan peningkatan dalam melihat, memahami, dan mengkaji permasalahan-permasalahan sosial yang ada di masyarakat dan substansi di dalamnya.

B.       Klasifikasi Kejahatan
Dalam menjelaskan latar belakang terjadinya kejahatan, Ada empat pendekatan untuk menjelaskannya, yaitu :
1. Pendekatan biogenik, yaitu suatu pendekatan yang mencoba menjelaskan sebab atau sumber kejahatan berdasarkan faktor-faktor dan proses biologis.
2. Pendekatan psikogenik, yang menekankan bahwa para pelanggar hukum memberi respons terhadap berbagai macam tekanan psikologis serta masalah-masalah kepribadian yang mendorong mereka untuk melakukan kejahatan.
3. Pendekatan sosiogenik, yang menjelaskan kejahatan dalam hubungannya dengan proses-proses dan struktur-struktur sosial yang ada dalam masyarakat atau yang secara khusus dikaitkan dengan unsur-unsur di dalam sistem budaya.
4. Pendekatan tipologis, yang didasarkan pada penyusunan tipologi penjahat dalam hubungannya dengan peranan sosial pelanggar hukum, tingkat identifikasi dengan kejahatan, konsepsi diri, pola persekutuan dengan orang lain yang penjahat atau yang bukan penjahat, kesinambungan dan peningkatan kualitas kejahatan, cara melakukan dan hubungan perilaku dengan unsur-unsur kepribadian serta sejauh mana kejahatan merupakan bagian dari kehidupan seseorang.
Menurut Marshall B. Clinard dan Richard Quinney membagi bentuk kejahatan menjadi memberikan 8 tipe, yaitu :
1)   Kejahatan perorangan dengan kekerasan yang meliputi bentuk-bentuk perbuatan kriminil seperti pembunuhan dan perkosaan. Pelaku tidak menganggap dirinya sebagai penjahat dan seringkali belum pemah melakukan kejahatan tersebut sebelumnya, melainkan karena keadaan-keadaan tertentu yang memaksa mereka melakukannya.
2)   Kejahatan terhadap harta benda yang dilakukan sewaktu-waktu, termasuk kedalamnya antara lain pencurian kendaraan bermotor. Pelaku tidak selalu memandang dirinya sebagai penjahat dan mampu memberikan pembenaran atas perbuatannya.
3)   Kejahatan yang dilakukan dalam pekerjaan dan kedudukan tertentu yang pada umumnya dilakukan oleh orang yang berkedudukan tinggi. Pelaku tidak memandang dirinya sebagai penjahat dan memberikan pembenaran bahwa kelakuannya merupakan bagian dari pekerjaan sehari-hari.
4)   Kejahatan politik yang meliputi pengkhianatan spionase, sabotase dan sebagainya. Pelaku melakukannya apabila mereka merasa perbuatan ilegal itu sangat penting dalam mencapai perubahan-perubahan yang diinginkan dalam masyarakat.
5)   Kejahatan terhadap ketertiban umum. Pelanggar hukum memandang dirinya sebagai penjahat apabila mereka terus-menerus ditetapkan oleh orang lain sebagai penjahat, misalnya pelacuran. Reaksi sosial terhadap pelanggaran hukum ini bersifat informal dan terbatas.
6)   Kejahatan konvensional yang meliputi antara lain perampokan dan bentuk-bentuk pencurian terutama dengan kekerasan dan pemberatan. Pelaku menggunakannya sebagai part time-Carreer atau pekerjaan sampingan dan seringkali untuk menambah penghasilan dari kejahatan. Perbuatan ini berkaitan dengan tujuan-tujuan sukses ekonomi, akan tetapi dalam hal ini terdapat reaksi dari masyarakat karena nilai kepemilikan pribadi telah dilanggar.
7)   Kejahatan terorganisasi yang dapat meliputi antara lain pemerasan, pelacuran, perjudian terorganisasi serta pengedaran narkotika dan sebagainya. Pelaku yang berasal dari tingkat jabatan kelas bawah memandang dirinya sebagai penjahat dan terutama mempunyai hubungan dengan kelompok-kelompok penjahat, yang juga terasing dari masyarakat luas, sedangkan tingkat jabatan kelas atas tidak berbeda dengan warga masyarakat lain dan bahkan seringkali bertempat tinggal di lingkungan masyarakat pada umumnya.
8)   Kejahatan profesional yang dilakukan sebagai suatu cara hidup seseorang. Mereka memandang diri sendiri sebagai penjahat dan bergaul dengan penjahat-penjahat lain serta mempunyai status tinggi dalam dunia kejahatan. Mereka cenderung terasing dari masyarakat luas serta menempuh suatu karir penjahat. Reaksi masyarakat terhadap kejahatan ini tidak selalu keras.

C.      Teori Kejahatan
Dalam memahami kejahatan sekarang ini, Kriminologi Modern menjelaskan tiga teori tentang kejahatan, antara lain :
1)    Teori Struktur Sosial
Para pakar kriminolog meyakini bahwa kekuatan-kekuatan sosial-ekonomi yang beroperasi di alam area kelas sosial-ekonomi rendah yang buruk mendorong sebagian besar penduduknya ke dalam pola tingkah laku kriminal. Posisi kelas ekonomi yang tidak beruntung adalah penyebab utama dari kejahatan.
Teori ini terbagi lagi menjadi tiga teori, yaitu Teori Disorganisasi Sosial, Teori Ketegangan (strain theory), dan Teori Kejahatan Kultural.
Teori Disorganisasi Sosial memiliki fokus pada kondisi di dalam lingkungan, di mana terjadinya lingkungan yang buruk, kontrol sosial yang tidak memadai, pelanggaran hukum oleh gang atau kelompok sosial tertentu, dan adanya pertentangan nilai-nilai sosial.
Teori Ketegangan atau Strain Theory memiliki fokus terhadap suatu konflik antara tujuan dan cara-cara yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Hal ini terjadi karena adanya ketidakseimbangan distribusi kekayaan dan kekuatan (kekuasaan). Kondisi seperti ini menyebabkan frustasi bagi kalangan tertentu sehingga berusaha mencari cara alternatif untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan. Teori ini kemudian memiliki turunannya sendiri, yang disebut sebagai Teori Anomi, yaitu teori yang memandang bahwa orang-orang memiliki paham yang sama akan tujuan dari masyarakat, tetapi kekurangan cara untuk mencapainya sehingga mencari jalan alternatif, seperti kejahatan.  Teori ini kemudian dapat menjelaskan angka kejahatan kelas bawah yang tinggi.
Teori Kejahatan Kultural merupakan bentuk kombinasi dari dua teori sebelumnya (disorganisasi sosial dan strain theory) yang secara bersama-sama menghasilkan budaya kelas rendah yang unik dan bertentangan dengan norma-norma sosial konvensional (sub cultural values in opposition to conventional values). Subkultur ini kemudian membatasi diri dengan gaya hidup dan nilai-nilai alternatif dan dianggap sebagai pelaku kejahatan (deviant) oleh budaya normatif.
Teori Struktur Sosial ini erat kaitannya dengan Perspektif Konsensus, yaitu tentang nilai-nilai dan kesepakatan umum yang ada di dalam lingkungan sosial masyarakat. Masyarakat hidup dalam norma-norma dan cara-cara yang telah disepakati bersama untuk tercapainya tujuan. Namun, ketika terjadi suatu kondisi frustasi terhadap norma atau aturan-aturan konvensional, seseorang atau kelompok tertentu mencari cara lain yang bertentangan dengan norma dan aturan yang ada, yang biasanya menjadi tingkah laku kejahatan. Pelanggaran hukum dalam Perspektif Konsensus merupakan suatu hal yang unik. Dalam kaitannya dengan teori ketegangan, terbentuknya sub kebudayaan kejahatan atau kelompok-kelompok kelas rendah (subculture) adalah merupakan suatu representasi yang mewakili hubungan sebab akibat yang unik tersebut.
2)    Teori Pengendalian Sosial
Teori Pengendalian Sosial adalah istilah yang merujuk kepada teori-teori yang menjelaskan tingkat kekuatan keterikatan individu dengan lingkungan masyarakatnya sebagai faktor yang mempengaruhi tingkah laku kejahatan. Kejahatan dianggap sebagai hasil dari kekurangan kontrol sosial yang secara normal dipaksakan melalui institusi-institusi sosial: keluarga, agama, pendidikan, nilai-nilai dan norma-norma dalam suatu komunitas. Teori Pengendalian Sosial dapat dibagi menjadi dua, yaitu Containment Theory dan Social Bond Theory.
Containment Theory yang digagas oleh Reckless (1961) berpendapat bahwa terdapat beberapa cara pertahanan bagi individu agar bertingkah laku selaras dengan nilai dan norma-norma yang ada di dalam masyarakat. Pertahanan tersebut dapat berasal dari dalam (intern), yaitu berupa kemampuan seseorang melawan atau menahan godaan untuk melakukan kejahatan serta memelihara kepatuhan terhadap norma-norma yang berlaku. Ada juga pertahanan yang berasal dari luar (extern), yaitu suatu susunan hebat yang terdiri dari tuntutan-tuntutan legal dan larangan-larangan yang menjaga anggota masyarakat agar tetap berada dalam ikatan tingkah laku yang diharapkan oleh masyrakatnya tersebut. Dengan demikan, kedua benteng pertahanan ini (intern dan extern) bekerja sebagai pertahanan terhadap norma sosial dan norma hukum yang telah menjadi kesepakatan bagi masyarakat.
Social Bond Theory oleh Travis Hirschi, melihat bahwa seseorang dapat terlibat kejahatan karena terlepas dari ikatan-ikatan dan kepercayaan-kepecayaan moral yang  seharusnya mengikat mereka ke dalam suatu pola hidup yang patuh kepada hukum (Conklin, 1969). Ikatan sosial yang dimaksud oleh Hirschi ini terbagi ke dalam empat elemen utama. Keempat elemen itu adalah (Bynum & Thompson, 1989) :
a)    Attachment, yaitu ikatan sosial yang muncul karena adanya rasa hormat terhadap orang lain.
b)   Commitment, yaitu pencarian seorang individu akan tujuan hidup yang ideal dan konvensional.
c)    Involvement, yaitu keterlibatan individu di dalam kegiatan konvensional dan patuh.
d)   Belief, yaitu keyakinan atas nilai dan norma sosial. Ikatan-ikatan sosial ini dibangun sejak masa kecil melalui hubungan emosional alamiah dengan orang tua, guru, teman sebaya.
Berdasarkan pengertian teori di atas, dapat dikatakan bahwa Teori Pengendalian Sosial memiliki kesesuaian dengan Perspektif Konsensus yang menekankan kepada kesepakatan nilai-nilai dan kepentingan-kepentingan yang ada di dalam masyarakat. Individu tidak melakukan kejahatan karena adanya kesadaran untuk tidak melanggar norma hukum yang telah menjadi kesepakatan umum di lingkungan sosialnya.
3)    Teori Labeling
Menurut Frank Tannenbaum (1938), kejahatan bukan sepenuhnya dikarenakan individu kurang mampu menyesuaikan diri dengan kelompik, tetapi dalam kenyataannya, individu tersebut telah dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan kelompoknya. Oleh karena itu, kejahatan terjadi karena hasil konflik antara kelompok dengan masyarakat yang lebih luas, di mana terdapat dua definisi yang bertentangan tentan tingkah laku mana yang layak.
Schrag (1971), p. 89-91) memberikan simpulan atas asumsi dasar teori labeling, yaitu sebagai berikut:
1)    Tidak ada satu perbuatan yang terjadi dengan sendirinya bersifat kriminal.
2)    Rumusan batasan tentang kejahatan dan penjahat dipaksakan sesuai dengan kepentingan mereka yang memiliki kekuasaan.
3)    Seseorang menjadi penjahat bukan karena ia melanggar undang-undang, melainkan karena ia ditetapkan demikan oleh penguasa.
4)    Sehubungan dengan kenyataan di mana setiap orang dapat berbuat baik atau tidak baik, tidak berarti bahwa mereka dapat dikelompokkan menjadi dua bagian kelompok: kriminal dan non-kriminal.
5)    Tindakan penangkapan merupakan awal dari proses labeling.
6)    Penangkapan dan pengambilan keputusan dalam sistem peradilan pidana adalah fungsi dari pelaku/penjahat sebagai lawan dari karakteristik pelanggarannya.
7)    Usia, tingkatan sosial-ekonomi dan ras merupakan karateristik umum pelaku kejahatan yang menimbulkan perbedaan pengambilan keputusan dalam sistem peradilan pidana.
8)    Sistem peradilan pidana dibentuk berdasarkan perspektif kehendak bebas yang memperkenankan penilaian dan penolakan terhadap mereka yang dipandang sebagai penjahat.
9)    Labeling merupakan suatu proses yang akan melahirkan identifikasi dengan citra sebagai deviant dan sub-kultur serta menghasilan “rejection of the rejector” (dikutip dari Hagan, 1989: p. 453-454)
Edwin Lemert (1950)  memberikan perbedaan mengenai konsep teori labeling ini, yaitu primary deviance dan secondary deviance. Primary deviance ditujukan kepada perbuatan penyimpangan tingkah laku awal. Kelanjutan dari penyimpangan ini berkaitan dengan reorganisasi psikologis dari pengalaman seseorang karena cap yang dia terima dari perbuatan yang telah dilakukan. Ketika label negatif diterapkan begitu umum dan begitu kuat sehingga menjadi bagian dari identitas yang individual, ini yang kemudian diistilahkan Lemert penyimpangan sekunder. Individu yang telah mendapatkan cap tersebut sulit melepaskan diri dari cap yang dimaksud dan cenderung untuk bertingkah laku sesuai dengan label yang diberikan (mengidentifikasi dirinya sebagai pelaku penyimpangan/penjahat).
Ilustrasi singkat yang dapat lebih menjelaskan teori ini adalah seseorang yang baru saja keluar dari penjara. Ketika dia menjalani hukuman penjara karena perbuatan yang dia lakukan di masa lalu, sesungguhnya dia telah mengalami proses labeling, yaitu keputusan dari penguasan yang menyatakan bahwa dia adalah penjahat dan patut untuk dihukum penjara (sesuai ketentuan yang diutarakan oleh Schrag, penangkapan adalah proses labeling). Setelah keluar dari penjara tersebut, masyarakat akan tetap menilainya sebagai penjahat karena cap yang telah melekat pada dirinya (sulit melepaskan label). Terjadi interaksi antara individu yang baru keluar dari  penjara tersebut dengan masyarakatnya, dan interaksi itu menghasilkan kesimpulan bahwa dia dicap sebagai penjahat meskipun sudah dunyatakan bebas.
Hal ini kemudian akan berpengaruh kepada kehidupan, mental dan sisi psikologis seseorang tersebut, yang kemudian menghambat karir atau usahanya untuk bertahan, seperti misalnya sulit mendapatkan pekerjaan atau mendapatkan kembali kepercayaan dari orang-orang. Dampak seperti ini kemudian menyebabkan seseorang tersebut akhirnya mengulangi perbuatannya dan akhirnya mendidentifikasi dirinya sebagai penjahat.

D.      Tujuan Penghukuman
Apabila berbicara mengenai penghukuman, maka pertanyaan yang kerap kali muncul adalah apakah tujuan hukuman itu dan siapakah yang berhak menjatuhkan hukuman. Pada umumnya telah disepakati bahwa yang berhak menghukum (hak puniendi) adalah di dalam tangan negara (pemerintah). Pemerintah dalam menjatuhkan hukuman selalu dihadapkan pada suatu paradoksalitas, yang oleh Hazewinkel-Suringa dilukiskan sebagai berikut :
Pemerintah negara harus menjamin kemerdekaan individu, menjaga supaya pribadi manusia tidak disinggung dan tetap dihormati. Tapi kadang-kadang sebaliknya, pemerintah negara menjatuhkan hukuman dan karena menjatuhkan hukuman itu maka pribadi manusia tersebut oleh pemerintah negara sendiri diserang, misalnya yang bersangkutan dipenjarakan.
Jadi pada satu pihak pemerintah negara membela dan melindungi pribadi manusia terhadap serangan siapapun juga, sedangkan dipihak lain pemerintah negara menyerang pribadi manusia yang hendak dilindungi dan dibela itu.
Orang berusaha untuk menunjukkan alasan apakah yang dapat dipakai untuk membenarkan penghukuman oleh karena menghukum itu dilakukan terhadap manusia-manusia yang juga mempunyai hak hidup, hak kemerdekaan bahkan mempunyai hak pembelaan dari negara itu juga yang menghukumnya. Maka oleh karena itu munculah berbagai teori hukuman, yang pada garis besarnya dapat dibagai atas tiga golongan :
1)   Teori Absolut
Tokoh-tokoh yang terkenal yang mengemukakan teori pembalasan ini antara lain adalah Kant dan Hegel. Mereka beranggapan bahwa hukuman itu adalah suatu konsekuensi daripada dilakukannya suatu kejahatan. Sebab melakukan kejahatan, maka akibatnya harus dihukum. Hukuman itu bersifat mutlak bagi yang melakukan kejahatan. Semua perbuatan yang temyata berlawanan dengan keadilan, harus menerima pembalasan. Apakah hukuman itu bermanfaat bagi masyarakat, bukanlah hal yang menjadi pertimbangan, tapi hukuman harus dijatuhkan. Untuk menghindari hukuman ganas, maka Leo Polak menentukan tiga syarat yang harus dipenuhi dalam menjatuhkan hukuman, yaitu :
1)   Perbuatan yang dilakukan dapat dicela sebagai suatu perbuatan yang bertentangan dengan etika, yaitu bertentangan dengan kesusilaan dan tata hukum obyektif
2. Hukuman hanya boleh memperhatikan apa yang sudah terjadi. Hukuman tidak boleh dijatuhkan dengan suatu maksud prevensi
3. Beratnya hukuman harus seimbang dengan beratnya delik. Hal ini perlu supaya penjahat tidak dihukum secara tidak adil.
Gerson W. Bawengan dalam bukunya Pengantar Psychologi Kriminil menyatakan bahwa ia menolak teori absolut atau teori pembalasan itu yang dikemukakan dalam bentuk apapun, berdasarkan tiga unsur, yaitu :
1. Tak ada yang absolut didunia ini, kecuali Tuhan Yang Maha Esa.
2. Pembalasan adalah realisasi daripada emosi, memberikan pemuasan emosionil kepada pemegang kekuasaan dan merangsang ke arah sifat-sifat 'sadistis' yang sentimentil. Oleh karena itu kepada para penonjol teori pembalasan itu, dapatlah diterka bahwa mereka memiliki sifat-sifat sadistis. Dan kerena itu pula ajaran mereka lebih condong untuk dinamai teori sadisme.
3. Tujuan hukuman dalam teori itu adalah hukuman itu sendiri. Dengan demikian teori itu mengalami suatu jalan buntu, oleh karena tujuannya hanya sampai pada hukuman itu sendiri. Adalah suatu tujuan yang tak bertujuan, sebab dipengaruhi dan disertai nafsu membalas.
2)   Teori Relatif atau Teori Tujuan
Para penganjur teori relatif tidak melihat hukuman itu sebagai pembalasan, dan karena itu tidak mengakui bahwa hukuman itu sendirilah yang menjadi tujuan penghukuman, melainkan hukuman itu adalah suatu cara untuk mencapai tujuan yang lain daripada penghukuman itu sendiri.
Hukuman mempunyai tujuan, yaitu untuk melindungi ketertiban. Para pengajar teori relatif itu menunjukkan tujuan hukuman sebagai usaha untuk mencegah terjadinya pelanggaran hukum. Menghindarkan, agar umumnya orang tidak melakukan pelanggaran bahkan ditujukan pula bagi yang terhukum agar tidak mengulangi pelanggaran. Dengan demikian maka hukuman itu mempunyai dua sifat, yaitu sifat prevensi umum dan sifat prevensi khusus. Dengan prevensi umum, orang akan menahan diri untuk tidak melakukan kejahatan. Lalu dengan prevensi khusus para penganjurnya menitikberatkan bahwa hukuman itu bertujuan untuk mencegah orang yang telah dijatuhi hukuman, tidak mengulangi lagi perbuatannya. Selanjutnya bagi mereka yang hendak melakukan peianggaran akan mengurungkan maksudnya sehingga pelanggaran tidak dilaksanakan.
3)   Teori Gabungan
Menurut teori gabungan, hukuman hendaknya didasarkan atas tujuan pembalasan dan mempertahankan ketertiban masyarakat, yang diterapkan secara kombinasi dengan menitikberatkan pada salah satu unsurnya tanpa menghilangkan unsur yang lain maupun pada semua unsur yang telah ada.
Penulis yang pertama kali mengajukan teori gabungan ini adalah Pellegrino Rossi (1787-1848). Sekalipun ia tetap menganggap pembalasan sebagai asas dari pidana dan bahwa beratnya pidana tidak boleh melampaui suatu pembalasan yang adil, namun dia berpendirian bahwa pidana mempunyai berbagai pengaruh antara lain perbaikan suatu yang rusak dalam masyarakat dan prevensi general.
Teori gabungan ini mendasarkan pidana pada asas pembalasan dan asas pertahanan tata tertib masyarakat, dengan kata lain dua alasan itu adalah menjadi dasar dalam penjatuhan pidana. Adapun teori gabungan ini dapat dibagi menjadi dua golongan sebagai berikut :
1)   Teori gabungan yang pertama mengutamakan pada adanya pembalasan, tetapi pembalasan itu tidak boleh melampaui batas dari apa yang perlu dan cukup untuk dapatnya dipertahankan tata tertib dalam masyarakat.
Menurut pendapat Zenenbergen bahwa:
“Makna setiap pidana adalah suatu pembalasan, tetapi mempunyai maksud melindungi tata hukum, sebab pidana itu adalah mengembalikan dan mempertahankan ketaatan pada Hukum dan Pemerintahan”.
Menurut Pompe, pidana adalah suatu pembalasan bagi penjahat, tetapi juga bertujuan untuk mempertahankan tata tertib hukum agar kepentingan umum dapat diselamatkan.
2)   Teori gabungan yang kedua ini menitikberatkan pada pidana yang bertujuan untuk perlindungan terhadap tata-tertib masyarakat. Tetapi penderitaan atas dijatuhinya pidana tersebut tidak boleh lebih berat daripada perbuatan yang dilakukan oleh terpidana.
Menurut pendapat Simons:
“Bahwa maksud dijatuhkan pidana adalah ditujukan pada pencegahan umum dan pencegahan khusus, pencegahan umum terletak pada ancaman pidananya dalam Undang-Undang, yang apabila hal ini tidak cukup kuat dan tidak efektif dalam hal pencegahan umum, maka barulah diadakan pencegahan khusus, yang terletak dalam hal menakut-nakuti, memperbaiki dan membikin tidak berdayanya penjahat, pidana yang dijatuhkan harus sesuai dengan Hukum dari masyarakat”.

E.       Penutup
Kebijakan penanggulangan kejahatan atau yang biasa disebut dengan istilah ‘politik kriminal' dapat meliputi ruang lingkup yang cukup luas. Menurut G. Peter Hoefnagels upaya penanggulangan kejahatan dapat ditempuh dengan :
a.    Penerapan hukum pidana (criminal law application)
b.    Pencegahan tanpa pidana (prevention without punishment)
c.    Mempengaruhi pandangan masyarakat mengenai kejahatan dan pidana kejahatan lewat mass media
Dengan demikian upaya penanggulangan kejahatan secara garis besar dapat dibagi dua, yaitu lewat jalur 'penal' (hukum pidana) dan lewat jalur 'non penal' (bukan/diluar hukum pidana). Secara kasar dapatlah dibedakan, bahwa upaya penanggulangan kejahatan lewat jalur penal lebih menitikberatkan pada sifat represif sesudah kejahatan terjadi, sedangkan jalur non penal lebih menitikberatkan pada sifat preventif sebelum kejahatan terjadi. Dikatakan sebagai perbedaan secara kasar, karena tindakan represif pada hakikatnya juga dapat dilihat sebagai tindakan preventif dalam arti luas.
Mengingat upaya penanggulangan kejahatan lewat jalur non penal lebih bersifat pencegahan untuk terjadinya kejahatan, maka sasaran utamanya adalah menangani faktor-faktor kondusif penyebab terjadinya kejahatan. Faktor-faktor kondusif itu antara lain berpusat pada masalah-masalah atau kondisi-kondisi sosial yang secara langsung atau tidak langsung dapat menimbulkan atau menumbuh-suburkan kejahatan.
KEPUSTAKAAN

1.    Atmasasmita, Romli. Teori Dan Kapita Selekta Kriminologi. Bandung: PT Eresco, 2004
2.    Barda Nawawi Arief, Upaya Non Penal Dalam Kebijakan Penanggulangan Kejahatan, Semarang, 1991.
3.    Bonger, W.A. (1977). Pengantar Tentang Kriminologi. Diperbarui oleh Thomas. G. Kempe. Diterjemahkan oleh Koesnoen. Pembangunan Ghalia, Jakarta: Indonesia, Cetakan ke-4.
4.    Edwin H. Sutherland, Asas-Asas Kriminologi, Alumni, Bandung, 1969.
5.    Elliot, M.A. (1952). Crime in Modern Society. 1st Edition. New York: Harper Brother.
6.    Gerson W. Bawengan, Pengantar Psychologi Kriminil, Pradnya Paramita, Jakarta, 1977.
7.    Reid, S.T. (1988). Crime and Criminology. Fifth Edition. New York, USA: Holt Rinehart and Winston, Inc.
8.    Sutherland, E.H dan Cressey, D. (1960). Principles of Criminology. Fifth Edition. Lippincot Company.
9.    Mulyana W. Kusumah, Kriminologi dan Masalah Kejahatan (Suatu Pengantar Ringkas), Armico Bandung, 1984.

10.    Soedjono D., Konsepsi Kriminologi Dalam Usaha Penanggulangan Kejahatan (Crime Pervention), Alumni, Bandung, 1970.

Kamis, 27 Juni 2013

CSBS part 9


Malam terindah yang pernah ada dalam hidupku, saat kami berdua berdansa dan berjarak sangat dekat, saling memandang, dan... (kagak ada adegan begituan ya...>.
Emang ya,kalau orang pacaran itu hawa-hawa nya pengen ketemu terus, (Cie...penulis sok tahu!) padahal baru semalam kita bertemu dalam pesta valentin, tunggu sebentar...kok tadi malam Andre kagak ngasih aku coklat, bunga, atau hadiah ya, kan judulnya aja valentin, lupa apa emang gak modal tu cowok. Ya bukan nya aku matre si, tapi tu cowok masa kagak ada romantis-romantisnya gitu, tapi biarlah yang penting minggu siang ini kita sudah janjian akan KP (tahu KP kagak?Kencan pertama bro,sist!). kita janjian jam 1 siang, tapi sejak jam sepuluh pagi aku udah ribet banget, nyiapin baju apa yang bakal di pakai, kalau kayak gini jadi inget dua minggu yang lalu saat Kak Ane akan kencan dengan pacarnya, yang kakak nya Davin itu lho...
Flashback 2 minggu lalu...
“Wih...tumben kak bongkar lemari, mau di sumbangin ke anak yatim ya?” kataku yang saat itu melihat kak Ane nampak sibuk di dalam kamarnya.
“Kagak odong!bantu kakak pilih baju mana yang cocok dong,bingung nih...”
“Emang pilih-pilih baju buat kemana, kondangan ya?”
“Bukan...nanti malam mau jalan sama Edo, tapi bingung mau pakai yang mana, kok tiba-tiba baju ku jadi gak pas semua gini ya, pakai ini kelihatan gendut...pakai itu kelihatan terlalu anak-anak, pakai yang kuning terlalu mencolok, aduh...bingung bok!” kata kak Ane sambil membolak-balik baju-baju di ranjang nya yang benar-benar mirip troler yang ada di mall saat diskon pakaian.
“Ribet amat si kak...emang baju mempengaruhi cinta nya kak Edo ke kakak apa?”
“Ya emang gak si, tapi kan gw selalu pengen tampak cantik di depan Edo...semua cewek kalau mau pergi sama pacarnya juga ribet tau, udah naluri gitu lah...mudeng gak loe?”
“kagak...” jawab ku dengan tampang polos anak TK.
“Yah...susah emang ngomong sama anak ABG yang kagak pernah pacaran,haduh...cape deh!”
“Aku juga capek liatin kakak bolak-balik, gonta-ganti pakaian kayak model aja... mending gw nonton film korea aja.” Kata ku sambil berjalan hendak keluar kamar, tapi saat aku akan menutup pintu...
“Kak...”
“Hemm...apaan lagi si?berisik loe!” kakak agak emosi karena capek kali ya,hahaha
“Jangan lupa nanti baju nya di tata yang rapi lagi, terus di masukin lemari soalnya kata mama, kita sebagai anak cewek itu harus...” belum aku selesai bicara kak Ane buru-buru menutup pintu kamar, jedor... “Berisik tu anak!” kata terakhir kak Ane sebelum kembali memilih2 bajunya.
Masa kini...
Aku tertawa sendiri membayangkan saat itu, sekarang aku sudah bisa merasakan apa yang dirasakan kak Ane, tapi walaupun begitu aku gak se heboh kak Ane jelas...
Oh iya aku juga membawa bekal, aku masak sendiri lho, hari gini cewek mana yang kurang kerjaan masak di saat KP, tapi itu adalah cita-cita ku, aku ingin masak yang terbaik buat pacar aku.
Aku gak tahu Andre suka apa jadi aku masak aja apa yang ada di kulkas, wah nasib Andre adalah “udang dan sosis”, karena aku tergolong koki yang kreatif, aku mix aja sama indomie, hahaha... (Indomie lagi indomie lagi...)
Teng...teng.....jam 1.
Andre benar-benar menjemputku, ya iyalah lah...kalau sampai gak jemput, ya selesai...
Aku tersenyum manis padanya saat ia mendekat ke arahku.
“Kita berangkat sekarang?” tanya nya, (Ampun...ya masa mau tahun depan!bodho ni cowok)
“Oke...” jawab ku dengan lembut dan sok manis, oh iya pasti kalian mau tahu, baju apa yang ku pakai sekarang, aku kasih tahu deh, aku memakai t-shirt pink dengan celana jins panjang biru laut, lumayan kece lah daripada biasanya kan Cuma pakai celana pendek sama kaus ukuran XL yang kalau aku pakai gak beda sama daster,hehehe.
“Kamu bawa apa Cin?” sekedar info, si Andre manggil aku Cin, cinta gitu. Ihirrrr
“Bekal buat kamu, kita mau kemana si?jadi ke pantai kan?”
“Hahaha,ribet banget bawa bekal. Udah tinggal aja, nanti makan di resto aja.”
Senyum ku langsung hilang entah kemana, sumpah saat itu udah gak mood lagi, jahat banget si Andre... aku masakin ini capek-capek buat dia, tapi dengan gampangnya dia ngomong kayak gitu.
“Gw gak mau ke Resto...” jawabku dengan ekspresi mayun.
“Kenapa si, lha terus kamu mau makan dimana, aku nurut deh...warteg kalau perlu”
Nyebelin tahu gak si, kok Andre kayak gitu, gak lucu kan masa KP udah bad mood gini.
“Aku mau makan bekel aku aja.” Kata ku ngotot memperjuangkan bekel yang sudah kubawa.
“Ya udahlah terserah kamu aja, yok...”
Walaupun masih agak gak suka, ya udahlah... daripada gak jadi, heheheh...
***
Kita sampai di pantai...huaw segarnya hembusan angin, air laut nampak sangat tenang... God is so Amazing, dia menciptakan semua indah. Termasuk makhluk yang duduk di samping ku ini. Dengan semangat aku membuka bekal yang telah ku bawa. Lalu aku menyodorkan pada Andre.
“Ini...enak lho!hemmm...”
Andre memandang ku lalu tersenyum, “udah makan aja...di habiskan ya, biar sehat.”
Heloh kok dia yang bilang gitu, makanan ini kan buat dia malah aku yang disuruh makan, maksudnya.
“Ini aku masak buat kamu Andre...” Mangkel juga lama-lama. (Mangkel = BT)
“Gak ah, buat kamu aja...”
Kok dia gitu ya, nggak menghargai banget... walaupun sedikit, seharusnya dia juga makan dong. Saat itu ada anjing kecil yang sedang lewat di depan kami berdua, dengan spotan aku memanggil anjing itu dan memberikan bekal yang ku masak dengan cinta pada anjing itu, semua...
Andre heran melihatnya, lalu bertanya “Kok kamu berikan anjing si...”
“Dah kenyang!” jawabku sedikit emosi, sepertinya Andre tahu kalau aku sedang marah, dia menggenggam tangan ku lalu memandangku, “kamu marah ya?” dalam hati rasanya ingin berteriak, ya iyalah...siapa yang gak marah kalau gak dihargai.
“Nggak...” jawab ku bohong, ya masa marah-marah...gak lucu aja, ingat KP. (kasian ya si Vini, hahaha...penulis tertawa)
“Kalau gitu senyum dong...”
“Hiiii...” aku menunjukkan gigi-gigiku, maksa senyum (jadi inget flm meteor garden, sanchai juga melakukan adegan ini, lalu huacele blg senyum mu jelek sekali, kira-kira Andre bilang apa ya?)
“Cantik...” (hehehe...) kata Andre yang Cuma se kata itu bisa membuat Vini tersenyum manis, huuu... dasar cewek, kalau sudah di bilang cantik pasti lupa deh marahnya.
Tiba-tiba Andre memegang dagu Vini, menarik dagu mungil itu ke arahnya, dan memandangnya tajam, Andre semakin mendekat pada wajah Vini, sementara Vini mati kutu... dia bingung dan terpaku. Andre mau ngapain, jadi deg-deg an aku...
(lho...kok sudut pandang penulisan ini berubah jadi penulisan orang ke tiga ya, wah...penulis terpaksa menggantikan peran Vini untuk bercerita sebagai orang tunggal karena lagi kondisi darurat). Udah-udah semakin kesini jadi gak jelas sudut pandang mana yang digunakan, tunggu aja CSBS ke 10. Apa yang terjadi pada Vini, penasaran kan... bersambung....

Minggu, 16 Juni 2013

Cinta Sebesar Bonusan SMS 8


Pagi ini rasanya bebeda banget...terasa lebih indah,berbunga-bunga (tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata perasaan seorang cewek yang baru aja punya pacar pertama, bahkan penulis sendiri bingung mw nulis apa, wes pokoknya si Vini lagi fall'in love) HP Vini yang biasanya bunyi karena alaram,kini bunyi karena SMS..."Pagi sayanx" aneh si bagi Vini dipanggil sayanx,hahaha...belum tebiasa mungkin.
Kak Ane sedikit curiga melihat langkahku pagi itu yang telihat santai tanpa beban walaupun sarapanku di habiskan kak Ane, aneh menurutnya, karena hari-hari sebelumnya pasti aku akan teriak-teriak melihat isi piringnya kosong.
"Lu gak sarapan Vin?sorry ya roti bagian lu gw makan,hehehe..." kata kakak aku tanpa dosa,jahat yaw...
"Gak apa2,aku berangkat dulu ya...da kakak..." jawab ku sambil tersenyum dan langsung keluar rumah untuk berangkat kuliah. Kak Ane masih memandangku dengan heran "tu anak kabelnya pasti ada yang kongslet...ckckckckc" pikir kak Ane.
Tebak aku kuliah dianter siapa?
Andre?
Tidak....hahahaha,tetep lah si abang Toyip yang dengan setia mengantarku. kebetulan rumah Andre lumayan jauh jadi gak mungkin lah aku minta antar dia, udah gitu beda kampus...so life is same.
kampus ku hari ini agak ribet karena persiapan acara valentin nanti malam, anak-anak nya juga pada ribet gak tahu apa yang di ributkan, hehehe...
"Vini..." nama ku di panggil oleh Aji temen ku, jangan kaget ya...Aji emang cowok, tapi gayanya melebihi cewek banget.
"Gimana Ji?"
"Gue bingung nanti malam mau pergi sama siapa?" katanya dengan tampang yang sedih.
"Emang lu belum punya pasangan ya?"
"Maka dari itu Cin,gw bingung...masa gue mw pasangan sama cowok gak boleh..." aku menutup mulutku menahan tawa, ya jelaslah gak boleh, orang secara fisik Aji kan cowok,halloooo...
"Lu salah cari pasangan dodol,masa pisang ketemu pisang...cari cewek dong!"
"Lu aja ya Vin,gw tahu cuma loe cewek yang gak punya pasangan..."
"Eitsss...sorry ya,sekarang gue udah punya pacar!"
"Serius loe?" wajah Aji kaget gak percaya gitu.
"Serius,nanti malam gw ajak & lu gw kenalin wes...tapi awas aja kalau lu tepe2 sama dia"
"Ganteng gak?" kok si Aji malah bersemangat gini,haduh bahaya nih...
"Penting ya buat loe?"
"Yah Vini, gw kan cuma mau tahu...terus kalau lu udah punya pasangan, ntar malem gw pergi sama siapa dong?"
"gak tahu,itu si urusan elu...hahahaha"
"Sombong ya,mentang2 udah punya ehemm...hem..."
"hahahaha..."
Aku gak sabar menunggu jarum jam tepat diangka enam,pangeran ku akan datang menjemputku, pecaya gak percaya ini akan menjadi pertama kalinya aku jalan dengan cowok selain Simon. aku tidak bisa bedandan seperti cewek cantik, tapi aku punya kakak yang berjiwa salon...hehehe,malam ini aku benar-benar menjadi seorang putri, bagaimana ya kalau Simon tahu aku bisa pakai dress, heloh...kok malah Simon yang ada di otak ku,hallo aku pacaran dengan Andre.
"Kebo!tuh ada motor datang...cowok,pasti pacar lu."
yah...dasar kakak gw sableng,udah dandan kayak princess gini masih aja di panggil kebo,teriak-teriak lagi...gimana kalau Andre dengar,kan malu.
aku deg-deg'an banget,tangan ku dingin banget...ihirrrrr....^.< (yg nulis ikutan grogi)
dia memakai kemeja warna merah marun,cucok banget sama dress ku yang putih dengan motif merah marun juga. ternyata sosok Andre sangat manis,walaupun kulitnya agak gelap tapi posturnya gue suka.hehehe...
"Loe cantik malam ini..." katanya begitu melihat aku,sumpah rasanya tuh kayak ngebelah samudra pasifik,lebay.com.
"Makasih...kita berangkat sekarang?"
dia tersenyum dan mengangguk,tapi tiba-tiba kak Ane keluar dan berteriak "Stop!"
"Apaan si kak?"
"Andre,masa lu mau bawa princess pakai motor,terus rambutnya yang udah gw salon tiga jam mau loe suruh tindih pakai helm,gak...gak...gak...apaan tuh,dress nya juga pasti akan sobek."
Bener juga si kata kak Ane,tapi si Andre kan emang bawanya motor,terus gimana dong...
"Maaf kak,tapi saya udah panggil taxi buat kita kok...gak naik motor" kata Andre sedikit merasa bersalah, oh so sweet.
"Pakai mobil papa aja kan bisa Vin...loe bisa nyetir gak dre?" usul kakak
"Gak kak...kita naek taxi aja,gak apa-apakan Vin?" jawab Andre sedikit takut pada kakak.
"Iyalah kak kita naik taxi ajalah kak,ntar papa marah lagi..."
"Ya udah deh,tapi ati-ati ya...Andre jaga adik gw!lecet dikit mati loe sama gw..."
aku tesenyum mendengar kata-kata kakak,itulah kak Ane walaupun nyebelin,tapi dia sayang banget sama aku.
Di dalam taxi,aku bingung mau ngomong apa,grogi banget,kita duduk sangat dekat,lalu Andre menggenggam tangan ku dengan senyum,aku merasa tanganku jadi hangat. ya tuhan,jadi kayak gini tow rasanya punya pacar...ihirrrr...
sampai di tempat party,kita masuk bedua,temen-temen aku langsung pada heboh gitu ngliatin aku,huahahaha...malu tapi seneng. aku perkenalkan Andre pada teman-teman, si Lisa malah bilang "Wah...loe selingkuhin bang toyip ya Vin" hahaha,ada-ada saja dia. ternyata di sana Andre bertemu dengan teman satu kampusnya yang juga kebetulan pergi bersama pacarnya anak kampusku.
"Itu temen gue Vin," kata Andre sambil menggandeng tanganku menuju tempat temannya berdiri bersama pasangan tapi gue gak kenal siapa ceweknya,yang pasti itu satu kampus sama aku.
"Hai No!" panggil Andre.
"Hai Dre," cowok itu juga tersenyum melihat kedatangan kami.
"jadi cewek loe anak kampus ini juga ya,hai...kenalin gue Noel" aku bejabat tangan dengan cowok yang benama Noel itu.
"Vini" kata ku memperkenalkan diri, terjadilah pecakapan diantara kita...ternyata pacar Noel anak Psikologi,namanya Sisi.
acara di mulai,entah aku yang terlalu risih atau apa, aku merasa Noel selalu menatap wajahku, kadang aku pura-pura tak melihat dan berbincang dengan Andre,tapi Noel...kenapa dia sepeti itu...
Bersambung...

Bocoran : mungkin bayangan Vini pacaran pada mulanya sangat indah,tapi apa yg terjadi dng berjalannya waktu. akankah Vini akan terus merasa bahagia,atau sebaliknya...lalu Noel,apa sebenarnya maksudnya?apakah Andre benar-benar cinta sejati Vini yang berawal dari bonusan SMS?lalu Davin kemana dia,masihkah dia akan muncul di CSBS berikutnya?Simon..seperti apa sosoknya?tunggu jawabannya di CSBS part 9. ^.

Jumat, 14 Juni 2013

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA


FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
Jl. Diponegoro 56-60
Phone  (0298) 321212 (Huting) | Fax. (0298) 321433
Website: psikologiuksw.com | E-mail: fpsi@adm.uksw.edu
Salatiga 50711 – Indonesia


Ø  Universitas Kristen Satya Wacana
Universitas Kristen Satya Wacana merupakan universitas yang telah berpengalaman menyelenggarakan pelayanan pendidikan lebih dari setengah abad, memastikan diadakannya pendidikan tinggi berkualitas, bereputasi nasional dan internasional yang dijamin melalui standar ISO 90012008 untuk mewujudkan “achieving excellence for all”. Di kampus hijau ini mahasiswa datang dari berbagai daerah di Indonesia, sehingga dikenal sebagai Indonesia mini, menjadikan tempat ini laboratorium ilmiah untuk berolah ilmu dengan mengasah kepekaan multikultural.

Ø  Mengapa mempelajari Psikologi?
Psikologi adalah ilmu yang sangat menarik, mempelajari bagaimana manusia berfikir, merasakan dan berperilaku, sehingga ilmu ini dapat diaplikasikan di berbagai ranah kehidupan manusia, dari skala pribadi (seperti perkembangan hidup dari masa di dalam kandungan hingga usia lanjut), perilaku antar individu dan kelompok, masalah gangguan kejiwaan & terapinya, organisasinya & industrinya serta bisnis (rekruitmen, training, perilaku konsumen), patologi masyarakat & kesehatan masyarakat, pengembangan berbagai metode pendidikan, hingga perilaku berpolitik maupun kenegaraan (perang, terorisme) dan masih banyak lagi.
Hal ini memungkinkan prospek lulusan psikologi memiliki kesempatan kerja yang luas dalam berbagai bidang keahlian; dibuktikan dengan permintaan lulusan psikologi yang semakin meningkat dari waktu ke waktu. Tidak mengherankan bila fakultas psikologi seringkali menjadi salah satu fakultas favorit di berbagai perguruan tinggi.

Mengapa memilih
Fakultas Psikologi UKSW?
1.      Sarjana psikologi yang menghasilkan diperlengkapi dengan pengetahuan dan ketrampilan mengenai psikologi yang mengintegrasikan tubuh (body), jiwa (mind) dan spiritual; baik secara teoritis maupun praktis. Hal ini berarti tinjauan psikologi di fakultas UKSW lebih bersifat menyeluruh dari berbagai sisi kehidupan individu.
2.      Atmosfer pembelajaran yang kondusif serta dorongan keaktifan mahasiswa. Selain kurikulum baku, mahasiswa dibekali ketrampilan profesional maupun humanistik melalui kegiatan ekstrakurikulair yang beragam.
3.      Memiliki sarana dan prasarana yang lengkap, termasuk berbagai laboratorium untuk mengelola pelaksanaan kegiatan pengajaran, penelitian, maupun pengabdian masyarakat. Laboratrium Terapan menjadi sarana pemberian layanan psikologis bagi masyarakat, sekaligus sebagai tempat berlatih mahasiswa mengaplikasikan ilmunya.

Ø  Admisi dan Biaya Kuliah
Proses admisi dapat ditempuh melalui 3 jalur, yaitu jalur PEMAMIK (seleksi prestasi akademik di SMA), jalur tes regular, dan jalur tes harian.
Biaya administrasi kuliah terjangkau, serta berbagai tawaran beasiswa dari dalam maupun luar negri bagi yang memenuhi syarat. Dilengkapi pula dengan layanan kemahasiswaan seperti penggunaan fasilitas internet dan asuransi kesehatan baik rawat jalan maupun rawat inap.
Informasi detail dapat diunduh di http: //uksw.edu. (klik pada bagian admisi)

Ø  Program Belajar
Untuk mencapai gelar sarjana Psikologi, mahasiswa harus menyelesaikan beban studi minimal sebanyak 145 sks; terdiri dari matakuliah wajib dan mata kuliah pilihan (ditempuh kira-kira 4 tahun). Di masa mendatang, mata kuliah pilihan dimungkinkan bisa diambil dari fakultas lain di UKSW sesuai dengan minat masing-masing, sehingga mahasiswa diperlengkapi dengan pengetahuan yang luas, tidak hanya dari bidang psikologi saja.
Proses belajar mengajar dipandu oleh staf pengajar berkualifikasi S3 & S2, lulusan dari universitas terkemuka baik dari dalam maupun luar negri, yang terus diperlengkapi melalui studi lanjut, berbagai pelatihan dan pengembangan diri untuk memberikan pelayanan berkualitas kapada mahasiswa.
Mahasiswa didorong untuk mengembangkan potensinya dengan cara aktif terlibat dalam kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler seperti Klub Olahraga dan Seni serta Organisasi Kemahasiswaan. Berbagai pelatihan tambahan bagi mahasiswa secara rutin dijadwalkan, juga kegiatan untuk mempersiapkan mahaiswa terjun ke dunia kerja, seperti studi lapangan, praktikum, magang, dan live in.


Ø  Fasilitas Penunjang
·         Laboratorium Psikologi Terapan
·         Laboratorium Psikologi Pendidikan, Umum & Eksperimen
·         Laboratorium Psikologi Industri & Organisasi & Psikologi Sosial
·         Laboratorium Klinis & Perkembangan
·         Multimedia di semua ruangan kelas
·         Perpustakaan dengan ribuan koleksi buku jurnal & e-jurnal mutakhir
·         WIFI di semua areal kampus
·         Bantuan Dana Terprogram & Beasiswa

Ø  Prospek Karier
1.     Industri dan organisasi: memberikan pertimbangan-pertimbangan psikologi bagi pengembangan struktur organisasi, pengembangan potensi SDM, melakukan analisa jabatan, dan penempatan karyawan; menyusun program-program pelatihan, melayani konsultasi/konseling, dan pemeriksaan psikologis.
2.      Klinis dan kesehatan (di rumah sakit umum, rumah sakit jiwa dan layanan kesehatan umum) : melakukan pemeriksaan, analisis, diagnose, dan terapi penyimpangan perilaku; konseling, dan konsultasi masalah psikologis bagi pasien dan paramedik, serta melakukan intervensi kesehatan mental bagi masyarakat.
3.      Pendidikan Formal dan Non Formal: memberikan pertimbangan-pertimbangan psikologis dalam rancangan kurikulum serta mengembangkan metode-metode belajar yang efektif dan efisien.
4.      Sosial: melakukan diagnosa dan penyelesaian masalah-masalah sosial, konsultasi, dan konseling masalah-masalah psikologis, serta pembinaan bagi individu yang mengalami patologi sosial.
5.      Olah raga: sebagai tim ahli untuk memelihara kesehatan dan ketahanan mental para atlet, menumbuhkan semangat yang tinggi bagi para atlet.
6.      Militer: sebagai konsultan/staf pada departemen psikologi di jajaran TNI dan kepolisian.
7.      Praktek Pribadi: memberikan layanan jasa psikologi secara pribadi kepada masyarakat umum melalui konseling dan konsultasi masalah-masalah psikologis serta melakukan pemeriksaan psikologis.

Ø  Kerjasama
Di bawah paying universitas, kerjasama dilakukan dengan puluhan universitas di luar negri, antara lain Ateneo de Manila, Griffth Unv. Australia, Vrije University Amsterdam, dll. Jejaring untuk pengayaan pembelajaran dilakukan antara lain dengan Souldrama Institute-USA, Center for Playback Theater New York-USA, berbagai RSJ, intansi pemerintah, perusahaan swasta, sekolah, gereja & LSM.

Ø  Prestasi
Memenangkan berbagai lomba debat nasional, Psycompilation (cerdas cermat) nasional, lomba Kreativitas Mahasiswa Nasional, presentasi paper dosen nasional, serta olahraga dan seni, seperti basket dan vocal group.

Ø  Apa itu psikologi?
Psikologi adalah sebuah bidang ilmu pengetahuan yang mempelajari mengenai perilaku dan kognisi manusia. Menurut asalnya, psikologi berasal dari bahasa Yunani kuno "ψυχή" (Psychē yang berarti jiwa) dan "-λογία" (-logia yang artinya ilmu) sehingga secara etimologis, psikologi dapat diartikan dengan ilmu yang mempelajari tentang jiwa.
Psikologi pada mulanya di gunakan para ilmuwan dan para filosof untuk memenuhi kebutuhan mereka dalam memahami akal pikiran dan tingkah laku aneka ragam makhluk hidup mulai dari yang primitive sampai yang modern. Namun ternyata tidak cocok, lantaran menurut para ilmuwan dan filosof, pisikologi memiliki batasan-batasan tertentu yang berada di luar kaedah keilmuan dan etika falsafi. Kidah saintifik dan patokan etika filosofi ini tak dapat di bebankan begitu saja sebagai muatan psikologi (Rebek, 1988).
Karena kontak dengan disiplin itulah, maka maka timbul berbagi macam definisi psikologi yang satu sama lain berbeda, Seperti :

Psikologi adalah ilmu mengenai kehidupan mental (the science of mental life)
Psikologi adalah ilmu mengenai pikiran (the science of mind)
Psikologi adalah ilmu mengenai tingkah laku (the science of behavior.

Psikologi lebih banyak di kaitkan dengan kehidupan organisme manusia. Psikologi di definisikan sebagai ilmu pengetahuan yang berusah memehami prilaku manusia, alasan dan cara mereka melakukan sesuatu, dan juga memahami bagimana makhluk tersebut berpikir dan berperasaan (Gleitman, 1986). Chaplin (1972) dalam Dictionary of Psychology mendefinisikan psikologi ilmu pengetahuan mengenai prilaku manusia dan hewan, juga penyelidikan terhadap organisme dalam segala ragam kerumitannya ketika bereaksi arus dan perubahan alam sekitar dan peristiwa-peristiwa kemasyarakan yang mengubah lingkungan. Sementara itu, Edwin G. Boring dan Herbert S. Langfeld seperti yang di kutip Sarwono (1976) mendefinisikan psikologi jauh lebih sederhana daripada defenisi,  yakni psikologi ialah studi tentang hakikat manusia.
Poerbakawatja dan Harahap (1981) membatasi arti psikologi sebagai “Cabang ilmu pengetahuan yang mengadakan penyelidikan atas gejala-gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa tersebut meliputi respons organisme dan hubungannya dengan lingkungan. Pendapat yang lebih relevan adalah pendapat Gleitman dan Boring dam Lengfeld.  Pendapat itu juga disamping tidak berbelit-belit juga hanya menitik beratkan pada kepantingan organisme manusia.
Pendapat-pendapat itu sesuai dengan kenyataan yang anda selama ini, yakni para ahli pada umumnya lebih banyak menekankan penyelidikan terhadap tingkah laku manusia yang bersifat jasmaniah (aspek psikomotor) maupun yang bersifat rohaniah (aspek kognitif dan apektif). Tingkah laku psikomotor (ranah kersa) bersifat terbuka. Tingkah laku terbuka meliputi perbuatan berbicara, duduk, berjalan, dan seterusnya. Sedangkan tingkah laku tertutup meliputi berpikir, berkeyakinan, berperasaan dan seterusnya. Secara singkat dapat kita tarik sebuah kesimpulan bahwa psikologi adalah “ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan membahas tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan. Lingkungan dalam hal ini meliputi semua orang, barang, keadaan dan kejadian yang ada di sekitar manusia”.

Ø  Manfaat belajar ilmu Psikologi?
Seberapa besar kita mengenal psikologi dalam kehidupan sehari-hari? Mungkin tidak banyak yang kita ketahui terkait dengan aplikasi praktis ilmu psikologi dalam kehidupan sehari-hari. Psikologi sendiri punya stigma negatif yang selalu dikait-kaitkan dengan gangguan jiwa, seperti kegilaan (insanity). Padahal psikologi itu sangat luas, karena dimana ada manusia, maka psikologi akan beperan serta. Berikut ini ada 10 hal yang psikologi lakukan untuk meningkatkan kualitas hidup kita.
a)      Hidup yang termotivasi
Hidup penuh dengan keinginan-keinginan yang ingin kita capai dan selesaikan. Apakah itu berhenti merokok, menurunkan berat badan, mempelajari bahasa baru, dll. Nah, dengan psikologi, kita dapat mempelajari cara bagaimana kita meningkatkan kapasitas otak dan kognitif kita untuk senantiasa termotivasi untuk menyelesaikan setiap goal dalam hidup kita.
Contoh sederhana yang dapat kita lakukan adalah memberi reward sendiri terhadap diri kita ketika kita telah berhasil melakukan sebuah tugas dengan baik, misalnya makan malam yang lebih mewah sedikit. Hal ini akan membatu kita untuk tetap termotivasi melakukan hal lain dan menyelesaikannya dengan baik.
b)      Dapat memperkaya gaya kepemimpinan kita
Tidak harus menjadi seorang manejer disebuah perusahaan terkenal agar kita belajar tentang kepemimpinan. Walaupun untuk hak-hal yang sederhana, melatih kepemimpinan itu sangat berguna buat kehidupan kita, karena kita sadar bahwa tidak semua orang terlahir untuk jadi pemimpin.
Jadi, psikologi menjadi jembatan untuk kita dapat menjadi pemimpin yang baik paling tidak bagi diri kita sendiri. Contoh sederhana yang bisa kita lakukan adalah ikut berkerja sama dengan kelompok-kelompok sosial disekitar kita.
c)      Meningkatkan cara berkomunikasi kita
Jika dokter memiliki istilah bertangan dingin maka untuk psikolog ada istilah berbibir dingin karena senjatanyanya adalah kata-kata. Tak heran kalau mendengar seorang psikolog berbicara, begitu enaknya dan menenangkan. Tetapi kita tidak perlu jadi seorang psikolog agar menjadi seorang good communicator. Dengan psikologi, kita dapat belajar pentingnya sikap nonverbal (tidak dengan kata-kata) dalam berkomunikasi dengan orang lain, seperti mimik wajah, bahasa tubuh, dll. Dengan ini, akan meningkatkan hubungan interpersonal kita dengan orang lain dan dapat mengirimkan pesan kita kepada orang melalui komunikasi yang efektif
Contoh sederhana yang bisa kita lakukan adalah menggunakan kontak mata baik dan pas ketika kita sedang berkomunikasi dengan orang lain.
d)     Belajar berempati dengan orang lain
Empati lebih tinggi tingkatannya dari pada simpati. Dengan berempati, kita berusaha untuk masuk ke sisi orang lain, merasakan apa yang orang lain rasakan dari sisi orang lain itu. Jadi psikologi mengajari kita untuk lebih peka terhadap orang-orang disekitar kita.
Melalui empati, kita juga belajar untuk memahami dan mengerti orang lain dengan tulus dan niat untuk membantu secara ikhlas. Cara sederhana yang bisa kita lakukan adalah dengan peka mencoba mengerti perasaan orang lain yang ada disekitar kita. Ini juga akan melatih diri untuk lebih mengenal dan mengerti perasaan diri kita sendiri.

e)      Menjadi lebih sehat
Apa hubungan psikologi dengan tubuh? Jabawannya tidak terpisahkan. Itu ibarat 2 sisi koin yang tidak bisa dihilangkan atau dipisahkan salah satunya. Oleh karena itu ada sub cabang psikologi yang bernama psikosomatologi yang mempelajari penyakit, tubuh sakit menyebabkan gangguan jiwa dan sebaliknya, gangguang jiwa yang membuat tubuh jadi sakit.
Jadi, dengan psikologi dijamin kehidupan kita akan bertambah sehat setiap harinya. Berpikiran positif, setiap hari disertai dengan senyum akan meningkatkan produktifitasan tubuh sehinnga menghasilkan energi lebih optimal dan membuat tubuh kita lebih sehat karena meneluarkan zat-zat berbahya dalam tubuh, adalah salah satu contoh sederhana yang bisa kita lakukan setiap hari.